Connect with us

Tak Berkategori

BURSA CALON WALIKOTA TANGSEL MENCUAT

Published

on

Jkt, 21/9 – Bursa calon walikota kepala daerah, kota Tangerang Selatan provinsi Banten, mulai mencuat, sejak awal pekan silam bulan ini.

Sedikitnya lima nama, nampaknya sudah memper siapkan diri untuk maju menjadi kepala daerah di kota Tangerang Selatan, ujar Kartono, SHi, MH Dosen Fakultas hukum di Universi tas Pamulang Tangsel.

Ia mengungkapkan kepada wartawan pada acara pengajian warga Takziah, menghadiri wafat Fachrudin Malin Putih, seorang sesepuh setempat, di Jalan Pesang grahan Ciputat, Jumat malam (20/9)

Kelima nama yang mencuat, diantaranya Ir H Ruhamaben, MSAe, Nur Asia Uno, Beben, Antar Reza Ao, dan Siti Nur Azizah, SH, putri Cawapres terpilih Ma’aruf Amin.

Nama nama calon walikota yang mencuat tersebut tidak asing bagi masyarakat kota Tangsel, tambah Kartono di kediamannya.

Mantan Cawapres

Istri mantan cawapres RI Sandiaga Salahudin Uno, Hj. Nur Asia uno, nampaknya disebut sebut juga bakal maju, mencalonkan diri jadi walikota Tangsel ketiga melanjutkan kepemimpinan Airin Racmi Diany, berakhir 2020.

Ia nampaknya didukung Partai Gerindra, kemudian
menyusul Beben dan Antar Reza Ao, keduanya putera puteri asli Banten, serta Putri Cawapres terpilih Ma’ruf Amin, Hj Siti Nur Azizah, ahli hukum ketatanegaraan, yang tampil prima dan siap maju menjadi walikota Tangsel.

Siti Nur Azizah (47), lahir 5 September 1972, puteri keempat dari Ma’aruf Amin, nampaknya Ia didukung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Dikukuhkan

Kota Tangerang Selatan dikukuhkan tanggal 26 November 2008, dari sebuah wilayah kecamatan, terletak 30 km sebelah barat Jakarta.
dan Sembilan puluh km sebelah Tenggara Serang, Ibukota provinsi Banten.

Kota Tangerang Selatan seluas 147.2 km terdiri atas tujuh kecamatan dan 54 kelurahan, dihuni penduduk sekitar 1,7 juta orang dengan kepadatan penduduk 8.453
jiwa/km.

“Kepemimpinan kota Tangsel yang harus bisa mengantar kan warganya lebih baik dalam berbagai hal ke depan,” ungkap ibu ibu pengajian Majelis Taklim dari Mesjid Al Makmur Ciputat, Sabtu (21/9)

Pantauan pewarta 212, media cetak dan media sosial merilis nama calon walikota Ir H. Ruhamaben MSAe, mencuat sangat tajam belakangan ini.

Ia didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera ( PKS) karena pernah menjabat ketua Dewan Pimpinan Daerah PKS Kabupaten Tangerang 2006-2009.

Ir H Ruhamaben, MSAe menjadi perwakilan rakyat hingga wakil ketua DPRD Tangerang Selatan 2009-2014.

Jebolan Belanda

Jebolan Magister dari TU Delft Belanda itu, keahlian di bidang tekhnik penerbangan ketika desertasi lulus dengan hasil S2 ” Cum laude”

Ruhamaben Putera ketiga dari 12 bersaudara pasangan alm Dr H Muslim Gunawan – Mugi Rahayu, kini dipercaya sebagai Direktur Keuangan PT Pembangunan Investasi Tangerang Selatan yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setempat.

Putera mantan Dosen IAIN kini UIN tersebut, Motto hidupnya, ” Bermanfaat untuk orang lain, membantu rakyat miskin, dengan program kerja, pengentasan pengang guran dan membangun kota Tangerang lebih modern,” berdasar masyarakat religius, ujar Ruhamaben sungguh. (002)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Berkategori

Sukses itu di jemput bukan di tunggu !!!

Published

on

BISMILAH yang mau terbebas dari hutang n berpenghasilan serta dpt motor mobil rumah cash InsyaAllah anda sukses berkah tanpa riba silahkan datang ke seminar nya bersama team kami di BISNIS ECO RACING lokasi kantor Bupati Pandeglang Jln . Bayangkara ciaseum pandeglang Banten sabtu 19 Oktober jam 1.30 siang di hadiri peraih motor 15 juta mobilio 150 juta menuju pajero 500 juta Bpk Salamudin asal rangkas banten 😇 ,, jgn sampai terlewatkan acara nya smg Eco racing wasilah tuk anda meraih kesuksesan dunia n akhirat Real n halal usaha nya kalau Bukan sekarang kapan lagi kalo bukan anda siapa lagi bahagikanlah orang tua keluarga n orang2 yg anda cintai…yg dekat jika mau hadir silahkan minta ke aku undangan nya ya 😊
#Salamsinergy #GoBerkahNoRiba 🙏🚘

Sukses itu di jemput bukan di tunggu !!!

Inilah Awal Perjuanganku Di Eco Racing,Alhamdulillah Fokus 5Bulan Motor,dan 1Unit Honda CRV sudah Saya dapatkan,sekarang Giliran Anda..Go Berkah No Riba

BERGABUNG DI ECO RACING | klik disini |

 

Continue Reading

Tak Berkategori

SURAT TERBUKA KPD REKTOR UGM TERKAIT PENOLAKAN UAS !!

Published

on

Pak Rektor , saya sbg salah satu alumni UGM merasa perlu menyampaikan catatan secara terbuka dalam konteks penolakan anda terhadap Ustadz Abdul Shomad (UAS) yg diundang BEM/KM UGM untuk menyampaikan ceramahnya. Yang menurut saya ceramah itu gak berbeda dengan seminar.

Dengan demikian respon Rektor yang menolak acara tersebut sangat kontradiktif dengan tradisi intelektualitas Kampus. Dengan penolakan ceramah UAS , berarti UGM tdk demokratis. Yang selama ini azas demokrasi adalah paham sekaligus strategi yg dijunjung tinggi oleh UGM.

Kalau yang terjadi justru penolakan terhadap salah satu “diksi” Ilmiah, pertanyaan selanjutnya adalah dimana posisi strategis UGM yg katanya sebagai salah satu Universitas “Center of excellent” Indonesia ? Dengan kejadian ini hanya akan menunjukkan bahwa Civitas Academica UGM beserta para Alumninya hanya sekelas dengan gerombolan “taklid buta” dan tidak siap beradu argumentasi dengan ulama sekelas UAS ! Rektor UGM tampak kecil dng “tragedi” ini ! Lembaga ilmiah ternyata kalah dengan kekuatan politik ! Artinya kadar intelektual yg mestinya independen telah di injak injak oleh hegemoni politik !

Kejadian ini hakekatnya merupakan musibah dan lambang keruntuhan dinamika ilmiah di Indonesia !

Dan lebih dari itu sikap “insist” seperti ini gak ber beda dengan era ORBA !

Katanya era Jkw adalah “anti thesa” ORBA ? Mana faktanya ?

Sebagai seorang alumni Fakultas Teknik UGM dan sbg seorang Muslim saya hanya mampu mengucapkan kalimah tarji atas musibah ini : “Innalillahi wa Inna ilaihi roojiuunn !”

Semoga semua ini menjadi bahan muhasabah bagi para alumninya yg masih menjunjung tinggi tradisi intelektual /akademis dan bukan menjadi instrumen kekuatan politik yang mengedepankan target ideologi yang biasanya tidak mempertimbangkan peradaban !

Thanks Prof !

Regards

Ahmad Daryoko
Alumni Fakultas Teknik UGM.

CC : Seluruh Civitas Academica dan Alumni UGM yg kebetulan membaca catatan ini.

Continue Reading

Tak Berkategori

Koalisi Ir. Joko Widodo dan Prabowo Subianto dan Gagasan NEGARA KUAT!

Published

on

Oleh: Natalius Pigai

Presiden Terpilih Ir. Joko Widodo dalam Visi Indoensia 2019-2024 menyatakan bahwa Indoneia Menjadi negara terkuat di dunia. “Kita harus optimistis menatap masa depan! Kita harus percaya diri dan berani menghadapi tantangan kompetisi global. Kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia”.

Visi Negara kuat sebagaimana disalampaikan dalam Visi Indonesia tersebut di atas sebenarnya telah diutarakan dalam berbagai kesempatan, termasuk penyampaian visi misi calon Presiden Republik Indonesia baik H. Joko Widodo maupun Prabowo Subianto pada saat debat pertama tanggal 17 Januari 2019 dan ke-empat 30 Maret 2019 dan berbagai kesempatan menekankan: “Negara Kuat jika Alutsista maupun Keamanan Dalam Negeri kuat, pentingnya Negara yang kuat, Negara kuat jika Institusi atau Lembaga Negara kuat, demikian pula ditunjang dengan pengelola Negara yang professional, bersih dan berwibawa”. “Bangsa yang kuat, mandiri, berdaulat maka akan dihargai dan dihormati bangsa-bangsa lain termasuk dalam diplomasi”. “Negara yang kuat jika memiliki TNI yang kuat disertai Alat Utama Sistem Persenjataan yang kuat dan modern maka akan disegani bansa lain”. “Keamanan Dalam Negeri terpelihara jika institusi Kepolisian Negara yang kuat”. “Rakyat mendapat keadilan dihadapan hukum, jika institusi Kepolisian terpercaya, bekerja secara independen, profesional, moderen, sejahtera”. Aparat Penegak Hukum (Polisi, Jaksa, Hakim) harus kenyang, sehat dan pintar supaya bekerja profesional, objektif dan imparsial dan menegakan hukum”.

Kalimat pajang tersebut di atas merupakan ringkasan dari sederet ungkapan ide, gagasan Joko Widodo maupun Prabowo Subianto membawa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kuat, pemenang dan keluar dari negara yang terancam gagal (falls of nations). Fals of Nation (Negara Gagal)”. Buku karangan Daren Acemoglu seorang ilmuan Amerika keturunan Turki. Inti dari buku Negara Gagal tersebut berkesimpulan bahwa “Negara Gagal karena sumber daya alam dikuasai sekelompok kecil oligarki, sementara kebijakan politik dan hukum negara berorientasi untuk memperkuat kepentingan sekelompok kecil oligarki ekonomi dan politik tersebut”. Sehebat-hebatnya membangun untuk mengejar ketertinggalan negara lain, tetapi tetap saja menjadi negara miskin dan gagal sebagaimana kesenjangan (gap) antara Amerika Serikat dan Meksiko, Korea Utara dan Korea Selatan, Jerman Barat dan Jerman Timur yang memiliki infrastruktur sama, namun label sebagai negara gagal tetap melekat di Meksiko, Korea Utara dan Jerman Timur sebelum reunifikasi. Oleh karena itu, Presiden Joko Widodo pada periode ke-2 (2019-2024) perioritas pembangunan pada sumber daya manusia sudah tepat.

Memang benar bahwa apapun yang dilakukan pemimpin bangsa ini tentu mempertimbangkan “kepentingan inti negara Indonesia” (core of national interest) yaitu; sesungguhnya negara yang maju dan berkembang berada pada penguatan hukum untuk mengatur ketertiban, keamanan dan rasa keadilan bagi rakyat”. Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman sebagai lembaga penegak hukum yang berada diberanda depan dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system) tentu menjadi pilar terpenting bagi negara ini.

Jika membaca pandangan dan hati nurani Presiden Joko Widodo maupun Jenderal Prabowo Subianto sebagai pemimpin bangsa ini sebenarnya mau menunjukkan ada optimisme dibalik tekanan liberal terbawa bangsa Indonesia tersandera dalam ancaman penetrasi kapital, hegemoni politik negara lain. Akibatnya negara makin tidak berwibawa karena perilaku kurang elok; kebocoran keuangan negara, korupsi merajalela, memperdagangkan pengaruh, jual beli jabatan yang justru dilakukan oleh orang-orang yang melingkari istana, pusat kekuasaan negara sejak jaman orde baru hingga saat ini.

Visi Indonesia yang disampaikan oleh Joko Widodo sudah mulai membuka kran demokrasi untuk tidak akan menyandera pilar-pilar demokrasi, hak asasi manusia, perdamain dan keadilan melalui instrumen demokrasi yaitu partai politik, media massa, lembaga penegak hukum. Bangsa ini tidak boleh mengalami distorsi arah dan gradasi nilai-nilai konstitusi dan landasan idil. Pada periode kedua Pemerintahan mesti berkomitmen agar rakyat bisa artikulasikan keinginan, rintian, ratapan, penderitaan, kebebasan ekspresi, pendapat, pikiran dan perasaan. Untuk menjaga kebebasan sipil terpelihara maka pucuk pimpinan lembaga yang menangani bidang politik, hukum dan hak asasi manusia haruslah orang yang profesional tetapi juga demokratis.

Dirahapkan pada masa yang akan datang pemimpin negara tentu bukan tipe pemimpin yang suka berdebat, berwacana dan bangsa ini beruntun seandainya Prabowo dan Jokowi berkoalisi maka 2 pemimpin yang kuat bertemu untuk membangun bangsa dan negara.

Kita berharap kedua pemimpin akan mampu Membangun bangsa berbudaya literasi dengan tidak bermain kata-kata gimik atau bahkan menyerang pribadi lawan politik. Berdiam tidak berarti apatis terhadap negara, berdiam sembari mengarahkan pemerintah berkerja sungguh-sungguh demi rakyat, bangsa dan negara. Harus dipahami bahwa situasi saat ini telah menyebabkan kerusakan fundamental soal integrasi sosial dan ancaman integrasi nasional karena itu membangun kekuatan bersama untuk pemantapan integrasi sosial dan politik.

Kebhinekaan bangsa dalam kurun waktu 5 tahun berada di titik nadir, bangunan sosial terancam pecah karena ketidakharmonisan dan fragmentasi antar horisontal juga vertikal. Rasisme, diskriminasi, kekerasan verbal yang didorong atas rasa kebencian Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan, pendatang dan pribumi adalah kosa kata yang saban hari menghiasi media massa, media sosial, media maintream dan juga dalam komunikasi interpersonal.

Sewaktu waktu di pangung resmi, baik di media, seminar, juga berbagai tempat pemerintah seringkali menyampaikan bahwa kebinekaan bangsa Indonesia adalah suatu wahyu, titah yang tertulis sebagai adagium persatuan dan kesatuan, kebinekaan bangsa sudah final dan mengikat sanubari tiap orang. Menjamurnya beraneka etnik, ras, budaya harus diterima sebagai kondisi kekinian, realitas bangsa bahkan keanekaragaman adalah suatu niscaya. Semua terlindung dalam konstitusi negara dan landasan ideologi Pancasila. Itulah inti negara kuat karena fondasinya bersatu padu dalam beraneka.

Negara harus memastikan bahwa rakyat tidak terlalu terjebak dalam sektarianisme, eksklusivisme yang naif dan bahkan chauvinistik seakan-akan ada yang mengklaim sebagai pemilik negeri ini, klaim diri sebagai pahlawan, nasionalis, bahkan bahkan personifikasi diri sebagai nasionalis, sedangkan suku bangsa lain di nusantara dan kaum minoritas lain dianggap bukan pejuang dan pahlawan. Membangun bangsa dengan tanggung renteng untuk memantapkan bangsa yang kuat.

Barangkali tidak lupa bahwa perjuangan bangsa Indonesia dilakukan secara sporadis, berjuang sendiri-sendiri di wilayahnya masing-masing dengan tujuan yang sama yaitu mengusir penjajah. Diponegoro tidak pernah memimpin perang dari Sabang sampai Merauke, tapi hanya wilayah Jawa Tengah. Laksamana Malahayati berjuang hanya di Aceh, Sisingamangaraja berjuang di Tanah Batak, demikian pula pahlawan Patimura hanya di Ambon dan lain-lain tetapi memliki keinginan yang sama yaitu Indonesia lepas dari belenggu penjajah.

Presiden Joko Widodo maupun Prabowo Subianto paham sejarah bahwa kemerdekaan Indonesia juga diperjuangkan semua orang, diraih karena adanya dikontribusi juga oleh tujuh orang pahlawan keturunan Cina; Jhon Lie, Koen Hian anggota BPUPKI dan lain lain, keturunan Arab; Baswedan dan lain lain, bahkan juga keturunan barat Belanda yang kita sebut penjajah seperti “Ijon Jambi” tokoh kopasus. Pahlawan besar beragama Katolik di Jawa Tengah tidak bisa diragukan lagi, nama-nama besar seperti Jos Sudarso, Adi Sutjipto, Adi Marmo, Slamet Riyadi, I.J Kasimo, dan lain lain. Kalau demikian apakah kita harus menafikan nama dan peran mereka dalam eksistensi Republik ini?. Tentu saja tidak karena bangsa ini terikat dalam adagium unitarianisme yaitu “Bhineka Tunggal Ika”. Cara pandang tentang kebangsaan ini tercermin pada Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Itulah ide, gagasan dan harapan Indonesia negara kuat dalam Pemeintahan Presiden Ir. Joko Widodo dan Maruf Amin 2019-2024 yang saya pahami dan analisis. Silakan rakyat ikut memberi dukungan tanpa mengoreksi untuk mengisi ruang-ruang kosong yang tidak diisi negara, dan kita jangan lupa bahwa dunia sedang mengalami perubahan (progress), bukan kemunduran (regress), kita bisa berubah jika ada hasrat untuk berubah (willingness to change).

Continue Reading

Trending

Copyright © 2018 Pewarta 212